![]() |
| Tiktok Reizuka Ari |
![]() |
| Tiktok Reizuka Ari |
Halo, rekans pembaca!
Sebagai mahasiswa rantau, hari-hariku belakangan ini sering kali diisi oleh satu aktivitas yang melelahkan namun tak bisa diungkapkan. Pernah nggak sih kalian ngerasa sudah mengambil keputusan yang matang, sudah merasa paling siap buat mandiri, tapi di tengah jalan tiba-tiba dihantam rasa ragu?
Itulah yang aku rasakan sekarang. Aku berpindah dari Batam ke Depok dengan ekspektasi setinggi langit. Awalnya, semuanya terasa seru banget. Punya teman baru dari berbagai daerah ada yang dari jakarta, bogor, bandung, kuningan, medan, eksplor tempat nongkrong baru di Depok yang nggak ada habisnya, rasanya seru banget! kayak akhirnya aku bisa bebas tanpa larangan dan suruhan, benar-benar memegang kendali penuh atas hidupku sendiri.
Tapi, ternyata itu ada masa berlakunya. Seiring berjalannya waktu, suasana mulai berubah. Saat hiruk-pikuk kampus mulai reda dan malam mulai sunyi di dalam kamar kos, pikiran-pikiran aneh itu mulai bermunculan satu per satu. Ada rasa sedih yang tiba-tiba nyelip karena menyadari betapa jauhnya aku dari orang tua. Realita mulai memukul makan yang tidak teratur, uang yang harus mati-matian dihemat, kalau sakit nggak ada bantuan, tugas yang menumpuk, serta rasa kesendirian di dalam kamar tanpa ada teman cerita yang benar-benar bisa dipercaya.
Kadang, rasa nyesel itu datang tanpa diundang secara tiba-tiba, bikin aku mikir, "Kenapa ya aku harus milih sejauh ini?". Belum lagi pertanyaan besar yang sering bikin aku overthinking "Aku di sini bakal berhasil nggak ya?". Aku terjebak di antara rasa senang karena lingkungan pertemananku seru, tapi di sisi lain, batinku kayak ditarik pulang oleh rasa rindu suasana rumah dan takut gagal.
Merantau itu ternyata bukan cuma soal pindah koordinat di Google Maps, tapi soal gimana kita berkomunikasi sama diri sendiri buat tetep yakin sama pilihan yang udah diambil. Jadi, buat kalian yang lagi ngerasa nyesel tapi sayang pas ngerantau, santai aja. Itu tandanya proses Decision Making kalian lagi naik level ke tahap dewasa.
![]() |
| Reizuka Ari |
![]() |
| Profile TikTok Reizuka Ari |
![Ulasan Singkat Film A.I. Artificial Intelligence (2001) - Oase Okta Ramadhani [10824805] 2MAO2 Film A.I. Artificial Intelligence (2001)](https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgG6RLqy0Df534-YXsezcHKFU5CXbQpWeyKm80vWmfUi9vhosVPG6nKEbqEUOpYZgfGNnF3pmbQ86Z9ZWsr86Hh4yzKq7SITTRvqbCjPh8XCQ9iPZT2Yzyzplp4ySl8l6Iozo9TFzfSUN7LNr8jedqqLhGeFC5iM46Sk_tRNVB9W9j-xchamrhOTfHPuIil/w400-h225/Screenshot%202025-11-30%20013451.png)
Film A.I. (Artificial Intelligence) menceritakan tentang David, seorang robot dalam bentuk anak manusia yang dirancang bukan hanya untuk melayani, tapi juga kemampuan mempunyai perasaan. David diadopsi oleh pasangan yang tengah menghadapi situasi sulit karena anak mereka sakit dan berada dalam keadaan koma. Kehadiran David awalnya membawa kehangatan kembali di keluarga itu karena David selalu berusaha membuat ibunya bahagia.
Namun, keadaan berubah saat anak kandung mereka sembuh dan kembali pulang dari koma. Kehadiran dua anak dalam satu rumah menimbulkan konflik dan tidak nyaman, apalagi karena David berbeda dan disalahpahami. Akhirnya, David ditinggalkan sendirian dan memulai perjalanan yg penuh harapan, hanya untuk menjadi anak sungguhan dan bisa kembali dicintai oleh ibunya. Perjalanan ini dipenuhi berbagai pengalaman yang mempertanyakan batas antara mesin pembuat (A.I.) dan manusia, serta makna cinta sendiri.
Film ini sangat terasa emosi penonton. Kita bisa melihat bagaimana teknologi digambarkan bukan sekadar alat, tetapi sebagai sesuatu yang mampu masuk ke dalam sosial yang dekat. Sutradara Steven Spielberg mempertunjukkan kisah yang membuat kita bersimpati kepada David, meskipun kita tahu ia hanyalah ciptaan manusia (A.I.) Perasaan kasihan, marah, hingga senang yang muncul membuktikan bahwa komunikasi emosional dalam film terbentuk dengan sangat efektif.
Dan juga film A.I. Artificial Intelligence (2001) menyajikan kritik kepada manusia sebagai pencipta teknologi. Ketika teknologi sudah mulai memiliki “perasaan”, manusia justru kewalahan dan tidak memperlakukannya dengan benar. Menunjukkan bahwa perkembangan teknologi sering kali jauh lebih cepat daripada perkembangan moral dan empati manusia. Dari pandangan ilmu komunikasi, film A.I. Artificial Intelligence (2001) memberikan contoh nyata tentang bagaimana media dalam bentuk robot dan teknologi bisa mempengaruhi cara manusia membangun hubungan sosial.
Dalam pembelajaran komunikasi multimedia, kita mempelajari bagaimana teknologi digunakan dalam interaksi atau penyampaian pesan dan film A.I. Artificial Intelligence (2001) adalah contoh berlebihan. David bukan sekadar robot tapi juga hadir sebagai wujud komunikasi yang hidup, karena bisa merespons, memahami, bahkan mengekspresikan emosi kepada manusia. Ini membuka diskusi tentang bagaimana teknologi dapat menggantikan beberapa aspek komunikasi manusia.
Melihat perkembangan sekarang, menurut saya yang digambarkan dalam film tidak lagi sekadar fiksi jauh. AI sekarang sudah bisa berkomunikasi seperti manusia, meniru respons suara, dan menemani orang yang kesepian melalui chat ai bot, hingga karakter virtual. Meskipun beda dengan David yang benar-benar memiliki emosi, arah teknologi saat ini menunjukkan batas manusia teknologi makin dikit.
Tapi kenyataannya, teknologi masih jauh dari konsep robot yang memiliki kesadaran penuh seperti David. A.I. hanya meniru perasaan berdasarkan data yang dipelajari, bukan merasakan secara nyata. Meski tentang etika dan tanggung jawab manusia terhadap teknologi sudah mulai dibahas secara menerus. Kita sebagai pengguna teknologi harus menyadari bahwa semakin canggih teknologi yang kita ciptakan, semakin besar pula tanggung jawab untuk memastikan penggunaannya tetap berdasarkan nilai kemanusiaan.
Tiktok Reizuka Ari Dianggap Pamer atau Inspiratif? Stereotip Netizen terhadap Kreator TikTok Oase Okta Ramadhani | 10824805| 2MA02 Di era ...