Ulasan Singkat Film A.I. Artificial Intelligence (2001) - Oase Okta Ramadhani [10824805] 2MA02
![Ulasan Singkat Film A.I. Artificial Intelligence (2001) - Oase Okta Ramadhani [10824805] 2MAO2 Film A.I. Artificial Intelligence (2001)](https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgG6RLqy0Df534-YXsezcHKFU5CXbQpWeyKm80vWmfUi9vhosVPG6nKEbqEUOpYZgfGNnF3pmbQ86Z9ZWsr86Hh4yzKq7SITTRvqbCjPh8XCQ9iPZT2Yzyzplp4ySl8l6Iozo9TFzfSUN7LNr8jedqqLhGeFC5iM46Sk_tRNVB9W9j-xchamrhOTfHPuIil/w400-h225/Screenshot%202025-11-30%20013451.png)
Film A.I. (Artificial Intelligence) menceritakan tentang David, seorang robot dalam bentuk anak manusia yang dirancang bukan hanya untuk melayani, tapi juga kemampuan mempunyai perasaan. David diadopsi oleh pasangan yang tengah menghadapi situasi sulit karena anak mereka sakit dan berada dalam keadaan koma. Kehadiran David awalnya membawa kehangatan kembali di keluarga itu karena David selalu berusaha membuat ibunya bahagia.
Namun, keadaan berubah saat anak kandung mereka sembuh dan kembali pulang dari koma. Kehadiran dua anak dalam satu rumah menimbulkan konflik dan tidak nyaman, apalagi karena David berbeda dan disalahpahami. Akhirnya, David ditinggalkan sendirian dan memulai perjalanan yg penuh harapan, hanya untuk menjadi anak sungguhan dan bisa kembali dicintai oleh ibunya. Perjalanan ini dipenuhi berbagai pengalaman yang mempertanyakan batas antara mesin pembuat (A.I.) dan manusia, serta makna cinta sendiri.
Film ini sangat terasa emosi penonton. Kita bisa melihat bagaimana teknologi digambarkan bukan sekadar alat, tetapi sebagai sesuatu yang mampu masuk ke dalam sosial yang dekat. Sutradara Steven Spielberg mempertunjukkan kisah yang membuat kita bersimpati kepada David, meskipun kita tahu ia hanyalah ciptaan manusia (A.I.) Perasaan kasihan, marah, hingga senang yang muncul membuktikan bahwa komunikasi emosional dalam film terbentuk dengan sangat efektif.
Dan juga film A.I. Artificial Intelligence (2001) menyajikan kritik kepada manusia sebagai pencipta teknologi. Ketika teknologi sudah mulai memiliki “perasaan”, manusia justru kewalahan dan tidak memperlakukannya dengan benar. Menunjukkan bahwa perkembangan teknologi sering kali jauh lebih cepat daripada perkembangan moral dan empati manusia. Dari pandangan ilmu komunikasi, film A.I. Artificial Intelligence (2001) memberikan contoh nyata tentang bagaimana media dalam bentuk robot dan teknologi bisa mempengaruhi cara manusia membangun hubungan sosial.
Dalam pembelajaran komunikasi multimedia, kita mempelajari bagaimana teknologi digunakan dalam interaksi atau penyampaian pesan dan film A.I. Artificial Intelligence (2001) adalah contoh berlebihan. David bukan sekadar robot tapi juga hadir sebagai wujud komunikasi yang hidup, karena bisa merespons, memahami, bahkan mengekspresikan emosi kepada manusia. Ini membuka diskusi tentang bagaimana teknologi dapat menggantikan beberapa aspek komunikasi manusia.
Melihat perkembangan sekarang, menurut saya yang digambarkan dalam film tidak lagi sekadar fiksi jauh. AI sekarang sudah bisa berkomunikasi seperti manusia, meniru respons suara, dan menemani orang yang kesepian melalui chat ai bot, hingga karakter virtual. Meskipun beda dengan David yang benar-benar memiliki emosi, arah teknologi saat ini menunjukkan batas manusia teknologi makin dikit.
Tapi kenyataannya, teknologi masih jauh dari konsep robot yang memiliki kesadaran penuh seperti David. A.I. hanya meniru perasaan berdasarkan data yang dipelajari, bukan merasakan secara nyata. Meski tentang etika dan tanggung jawab manusia terhadap teknologi sudah mulai dibahas secara menerus. Kita sebagai pengguna teknologi harus menyadari bahwa semakin canggih teknologi yang kita ciptakan, semakin besar pula tanggung jawab untuk memastikan penggunaannya tetap berdasarkan nilai kemanusiaan.